Kejamnya Ibu Tiri, tak Sekejam Ibu Kota

Bandung adalah kota besar. Bahkan teramat besar untuk seorang Buyar Winarso yang baru saja lulus SD. Sekalipun begitu, ia telah berhasil menorehkan kisah sukses “menaklukkan” Bandung dengan merintis bekerja sebagai pegawai rumah makan Padang, dan sukses menjadi pedagang rokok.

Bagaimana Bandung bagi Buyar yang kini sudah lulus SMA dan usianya 23 tahun? Kurang menantang. Ia ingin menjajal Ibu Kota Jakarta. Banyak teman yang sudah lebih dulu merantau ke Jakarta, mengisahkan mudahnya mendapatkan uang bagi siapa saja yang bermental baja dan berjiwa kerja keras.

Selain itu, Buyar sendiri bukannya awam tentang Ibu Kota. Semasa sekolah SMA, setiap musim libur, ia selalu pergi ke Jakarta. Berlibur? Ah tidak! Itu terlalu mewah baginya. Ia ke Jakarta justru untuk bekerja. “Daripada bengong liburan sekolah di rumah, saya ke Jakarta, kerja apa saja di sana, yang penting dapat uang,” ujarnya.

Mengisi liburan sambil kerja di Jakarta, adalah cara Buyar memelihara etos kerja keras. Salah satu pekerjaan yang sudah pasti ada adalah menjadi pekerja bangunan. “Kasarnya ya jadi kuli bangunan. Angkat-junjung bata, semen, pasir… ya, semua pekerjaan bangunanlah,” kata Buyar.

Salah satu proyek gedung tempat ia pernah bekerja sambil mengisi liburan Ramdhan, antara lain Gedung Arsip Nasional di Jalan Ampera, Jakarta Selatan.

“Setelah saya renung-renung, bekerja sambil mengisi liburan Ramadhan sungguh banyak manfaatnya. Selain memelihara semangat bekerja keras, saya juga seperti menyelam sambil minum air. Selesai bekerja, pulang kampung dapat uang lumayan banyak untuk berlebaran,” tutur Buyar dengan muka berbinar.

Bermodal sejumlah teman yang sudah bermukim di Jakarta, serta ijazah SMA, Buyar bertolak ke Jakarta. Jakarta yang dikenal ‘kejam dan keras’ bagi pendatang, tidak menggentarkan nyali Buyar Winarso. Sebaliknya, ia merasa tertantang untuk menundukkan ‘kejamnya Ibu Kota’.

Ia mencatat tahun 1986 sebagai tahun “hijrah” dari Kebumen ke Jakarta, dengan satu tekad, meraih kehidupan yang lebih baik. Ia berangkat ke Ibu Kota dengan sangu pas-pasan, hanya Rp.5.000 pemberian orangtuanya.  “Uang segitu, dipotong beli tiket kereta api hampir dua ribu rupiah. Jadi, praktis saya memulai hidup di Jakarta dengan tiga ribu rupiah saja, tapi saya yakin pasti bisa,” tandasnya.

Satu hal yang tidak ia lupakan, adalah memohon doa restu kedua orang tua, serta nenek tercinta. “Niat saya merantau ke Jakarta mendapat dukungan orangtua. Selain mendoakan saya, mereka juga memberi sangu sekadarnya,” ungkap Buyar.

Laju kereta api yang membawa Buyar ke Jakarta, begitu khas. Suara derit gerbong, gemuruh suara roda besi beradu rel, serta raungan klakson yang membahana, mengguncang-guncang tubuh Buyar dalam 10 jam perjalanan Kebumen – Jakarta.

Sesampai di Jakarta, mantap langkahnya menuju satu rumah petak di bilangan Cikokol, Jakarta Selatan. Di rumah petak itulah tinggal beberapa temannya yang berprofesi sebagai tukang becak. “Saya numpang sementara di tempat mereka, sekaligus nyambi-nyambi. Itu saya lakoni selama seminggu,” katanya.

Sambil ‘nyambi’ bekerja apa saja, dia juga sibuk mengirimkan lamaran kerja ke mana-mana. Sampai secara tak terduga dia bertemu dengan seseorang yang baik hati yang membutuhkan orang untuk menjaga rumah di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Buyar yang langsung mengiyakan.

Alhamdullilah ternyata orang yang saya ikuti itu baik sekali. Dia tidak ‘menutup’ saya, justru sebaliknya, dia mendorong saya untuk mencari pekerjaan. Jadi kalau ada lowongan kerja, orang itu menyuruh saya untuk melamar, dia juga memberikan ongkos pada saya,” tutur Buyar yang sempat satu bulan tinggal di Kebon Jeruk sebagai penunggu rumah.

Berbicara duka, kepahitan dan perjuangan selama hidup di perantauan, tentu tak terhitung. Ia yang boleh dibilang modal cekak, bahkan nyaris tak ada, berjuang untuk bisa survive. Salah satu kunci yang senantiasa lekat di hati Buyar Winarso adalah amanah (memegang kepercayaan orang) serta “ringan tangan”.

Itu tidak sulit bagi Buyar Winarso, karena memang begitulah karakternya. Baginya, menjaga kepercayaan orang sangat penting dan dijunjung tinggi, begitu pula sikapnya yang ringan tangan, tak segan bekerja apa pun untuk membantu orang lain. Karakter itulah yang membuat ‘majikannya’ di Kebon Jeruk menaruh rasa ‘sayang’ padanya sehingga selalu mendorong untuk bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik.

“Ketika saya akan ke Jakarta, saya sudah bertekad, kalau orang memberi amanah kepada saya, akan saya jalankan sekuat tenaga. Mungkin kalau saya bersaing di bidang ilmu pengetahuan, saya tidak bisa. Tapi kalau saya bersaing dari sisi amanah, insya Allah saya pegang betul. Alhamdulillah konsep saya jalan,” tuturnya.

Begitulah, setiap ada kesempatan keluar rumah, dimanfaatkannya untuk melamar pekerjaan kesana-kemari. Hingga suatu hari, ia mendengar ada lowongan  pekerjaan di sebuah tempat. Maka dengan bekal ongkos dari sang bos, ia pun mencari kantor tersebut.

Suatu ketika ketika sedang ‘muter-muter’ mencari pekerjaan, dia melihat ada sebuah restoran di bilangan Monas yang akan  buka.  Tak membuang waktu, dia pun memasukkan lamaran ke restoran tersebut. Ia teringat kembali peristiwa di Bandung, ketika hendak melamar menjadi pegawai di restoran Padang. Bedanya, kali ini ia tidak langsung diterima, tetapi diminta kembali lagi bulan depan karena pembangunan belum selesai, dalam proses finishing.

Sebulan kemudian, seperti yang dijanjikan, dia pun datang kembali ke restoran tersebut. Ia diminta menunggu karena bos restoran belum datang.  Dari pagi hingga siang dia menunggu, perut  lapar “keroncongan” ditahannya, demi mendapatkan kepastian diterima atau tidaknya dia pada pekerjaan tersebut. Yang terjadi kemudian adalah pengalaman getir.

“Bayangkan, saya sudah menunggu seharian, rasa lapar saya tahan, eh, begitu  bos datang dia bilang, mohon maaf , Anda telambat! Wahhh… saya marah, ditambah perut kosong, jadilah darah cepat naik ke otak. Reflek saya langsung gebrak meja… braaakkk…. Si bos kaget… saya kira agak takut juga dia…. Yang terjadi kemudian, dia minta maaf dan memberi saya amplop berisi uang Rp. 350.000. Mungkin biar marah saya reda, atau mungkin dimaksud sebagai pengganti uang transpor saya. Tapi yang jelas, saya tetap tidak diterima,” kenang Buyar.

Dengan uang pemberian bos restoran itu, ia pun mengajak teman-temannya makan. Teman-temannya mengira dia diterima bekerja.

“Mereka ngotot, tidak percaya kalau saya tidak diterima. Saya ceritakan kejadian itu. Tapi cerita tentang menggebrak meja, saya tidak bilang… ha… ha… ha… malu! Uang yang saya dapat pun saya bagikan ke teman-teman, setelah saya sisihkan untuk  sangu mencari kerja lain,” tutur Buyar Winarso.

Nah, dengan sisa uang dari bos restoran itu, kembali Buyar keliling Ibu Kota, dari satu daerah ke daerah yang lain. Kelu kaki tak dirasa, peluh meleleh, tak dihirau, sedih hati tak digubris. Ia terus dan terus berusaha mengetuk setiap kesempatan, mengetuk setiap lowongan pekerjaan. “Jakarta benar-benar keras. Jakarta benar-benar kejam,” kata batin Buyar.

Tiba suatu hari, setengah mati mencari pekerjaan, ngider-ngider di daerah Kota, ternyata tidak ketemu alamat dan maksud yang dituju, sampai akhirnya ia terdampar di kawasan Monas. “Saya benar-benar kecapaian, akhirnya ngaso di bawah pohon rindang yang banyak terdapat di sekitar Monas,” tuturnya.

Nah, hal ghaib kembali terjadi. Di saat ia leyeh-leyeh di bawah rindangnya pohon sengon, ditiup semilir angin, membuat berat kelopak mata. Sejurus kemudian, ia terlelap. Di saat itulah ia kembali mendapat “bunga tidur”, kembali didatangi sang kakek almarhum.

Dalam mimpinya, sang kakek bertitah, “Pulang saja, karena di sini tidak ada pekerjaan….”

Sebuah mimpi yang benar-benar aneh. Ia disuruh pulang, sementara hatinya kukuh untuk bertahan. “Saya bergegas pulang ke Kebon Jeruk sambil terus memikirkan mimpi tadi. Anehnya, ia menangkap mimpi tadi, lagi-lagi sebagai pasemon, agar ia tidak berputus asa dalam mencari kerja di Jakarta. Jadi, saya mengartikan sebaliknya, karena memang begitulah suara hati saya,” tutur Buyar.

Ia kembali melayangkan sejumlah mimpi sebelumnya. Setiap mimpi bertemu kakek, dan mendapat perintah, maka yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Demikian juga mimpi yang ia dapat di dekat Tugu Monas.

Nyatanya memang demikian. Tak berapa lama kemudian dia mendapat pekerjaan di PT Bhinneka Tunggal Ika di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Perusahaan itu bergerak di bidang pengiriman tenaga kerja (PJTKI) ke Saudi Arabia. “Saya bekerja di sana sampai tahun 1988,” katanya seraya menyebut gaji pertamanya sebesar Rp 75.000.

Uniknya, dia diterima di bagian administrasi, tapi sama sekali tidak bisa mengetik. Tapi bukan Buyar namanya kalau tidak punya semangat dan tekad sekuat baja. Ia pun berusaha keras untuk belajar mengetik. Kebetulan dia tinggal di kantor, karenannya kesempatan belajar terbuka lebar sebab segala perlengkapan kantor, termasuk mesin tik ada di sana.

“Tidak ada orang yang menyuruh saya untuk belajar, termasuk bos. Itu keinginan saya sendiri. Saya sudah bertekad harus bisa! Tiap malam saya terus ketrak-ketrik… sampai bisa. Alhamdulillah, tak membutuhkan waktu lama saya pun mahir mengetik,” tambahnya. Setelah bisa mengetik, dia pun mendapat kesempatan untuk belajar tugas-tugas lapangan. “Bidang ketenagakerjaan, kan hubungannya dengan Departemen Tenaga Kerja, Imigrasi juga Airport Cengkareng. Tempat-tempat itulah yang saya kunjungi, karena masih belajar,  saya masih ikut teman kantor. Sampai akhirnya saya bisa jalan sendiri, dan mulai mengenal relasi-relasi kantor di luar,” katanya.

Singkat kata, sebagai pegawai PJTKI, Buyar Winarso cepat tanggap dan cepat beradaptasi dengan bidang itu. Ringkas kalimat, karier Buyar cukup cemerlang.

Namun ada selingan dalam rutinitasnya sebagai pegawati PJTKI. Dalam satu kesempatan pulang kampung, di daerah Kroya ia tertarik dengan jajanan pisang sale. Tiba-tiba saja muncul idenya untuk berjualan pisang sale di Jakarta. Lalu dia pun membeli pisang sale 3 kg sebagai percobaan. Sesampai di rumah, pisang tersebut dikemas lagi. Setelah itu, di waktu senggang dia pun masuk ke warung-warung, memasok pisang sale.

Ternyata bisnis itu berjalan bagus. Konsumsi pisang salenya terus meningkat, dalam sebulan mencapai dua ton! Sungguh fantastis. “Pemasarannya saya lakukan sambil jalan. Misalnya, sambil jalan ke kantor saya mampir  ke warung-warung, toko-toko atau pada sore dan malam sepulang kerja. Biasanya setelah pekerjaan selesai, sore, saya muter-muter ke warung-warung atau toko. Semua berjalan bagus. Saya berperinsip, selama pekerjaan dikerjakan dengan tekun, pasti akan berjalan,” tegasnya.

Buyar Winarso termasuk orang yang cepat belajar, ketekunannya membuat ia dengan cepat mampu menguasai pekerjaannya. Dia bukan hanya mampu mengerjakan tugas-tugas admistrasi tapi juga tugas-tugas lapangan. Kemampuan istimewa dari Winarso ini ternyata juga menjadi pengamatan bosnya  di PT Bhinneka Tunggal Ika.

Tak heran ketika sang bos mendirikan PT. Abul Pratama Jaya yang juga bergerak di bidang pengiriman tenaga kerja, Buyar Winarso diberi tanggung jawab memegang SIUP, sekaligus diangkat sebagai Direktur Utama. Kepercayaan itu, sudah barang tentu menuntut tanggung jawab lebih, juga konsentrasi penuh. Sebab di pundaknya tanggung jawab maju-mundurnya perusahaan. Itu juga yang membuat Buyar yang sedang menempuh pendidikan di Universitas 17 Agustus Bekasi jurusan ekonomi manajemen, memutuskan berhenti kuliah. “Tanggung jawab saya besar, saya harus konsentrasi penuh, makanya kuliah saya lepas dulu,” ucap Buyar Winarso yang menjadi Dirut di PT Abul tahun 90-an.

Bukan hanya kuliah yang dia tinggalkan, tapi juga bisnis pisang sale yang sedang berkembang pun ia relakan dikelola oleh pamannya.

Meski bisnis sampingan tersebut berkembang bagus, Buyar Winarso lebih memilih konsentrasi di bidang bisnis pengiriman tenaga kerja. “Diberi tanggung jawab sebagai Dirut merupakan sebuah amanah, saya harus menjaga itu. Selain itu, saya ingin total,” tegasnya.

Sang bos memang tak salah pilih. Di tangan Buyar Winarso, perusahaan baru itu dengan cepat berkembang. Lagi-lagi ketekunan, dan totalitas, yang membuat perusahaan tersebut maju.

Dua tahun Winarso berkiprah di PT Abul Pratama Jaya. Tahun 1992, ia pun memutuskan keluar dari perusahaan tersebut dengan alasan ingin mandiri. Kondisi PT Abul ketika ditinggalkannya dalam keadaan yang sangat bagus, pengiriman tenaga kerja ke Timur Tengah mencapai hampir 800 orang sebulan. Sang bos pun memaklumi niatan Buyar Winarso yang ingin mandiri, bahkan mendukungnya.

Jika sang waktu dihimpun dalam satu wadah, jika jumlah hari diikat dalam satu suh, jika bilangan tahun dihimpun menjadi satu angka, maka akan kita dapat takaran waktu sepanjang tiga tahun. Jika dirinci, akan kita jumpai statistik 36 bulan, 156 minggu, 1.095 hari, 26.280 jam!

Sebanyak bilangan itulah Buyar Winarso memulai kerja kecrak-kecrek sebagai tukang ketik amatir, hingga meraih posisi Direktur Utama sebuah perusahaan PJTKI ternama. Jika sukses menaklukkan Ibu Kota diukur dari status jabatan yang melekat pada dirinya, maka Buyar Winarso bisa diklasifikasikan sebagai salah satu orang Kebumen yang telah berhasil menundukkan kejamnya Ibu Kota.

Berangkat dari status sosial yang meningkat, status ekonomi yang membaik, ditunjang relationship yang makin luas, mengakibatkan semua program hidup seolah berjalan pada roda kelancaran. Bersamaan dengan bertambahnya pengalaman hidup dan usia, maka pemahaman tentang hakikat hidup dan religiusitas batin juga meningkat. Dalam kondisi seperti itu, membuat langkah Buyar Winarso selanjutnya menjadi lebih ringan.

Dalam kalimat ringkas, kita bisa memosisikan Buyar pada fase ini, sebagai seorang profesional yang bekerja pada bingkai norma sosial dan agama. Tak heran jika segala langkahnya temata. Tak salah jika batinnya semeleh.   ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s