Memacu Denyut Nadi Kebumen

Lepas matahari terbenam, satu per satu pertokoan di kota Kebumen tutup. Satu-dua toko kategori besar, bertahan hingga pukul 19.00 atau bahkan 21.00. Ya, hanya satu-dua. Selebihnya, masuk kategori rata-rata… yakni rata-rata tutup jam lima sore. “Ini indikasi paling mudah untuk mengetahui bahwa perekonomian di Kebumen sangat lemah, bahkan bukan tidak mungkin menjadi lumpuh,” ujar H. Buyar Winarso, SE, kandidat Bupati Kebumen 2010 – 2015.

Tidak hanya itu. Dalam kesempatan ia mengunjungi pasar, kelesuan yang sama juga tampak di sana. Lepas dari penataan pedagang masih perlu diperbaiki, suasana dan kebersihan yang harus ditingkatkan, tapi ada satu hal yang ia catat betul, yakni kelesuan. Ibarat manusia, pasar tradisional di Kebumen “kurang darah”. “Tidak sedikit dari mereka yang mengatakan, lebih banyak yang berjualan daripada yang membeli. Saya benar-benar prihatin. Ini tidak bisa dibiarkan. Pasar harus kembali digairahkan, agar lebih berdarah, agar lebih hidup,” tekadnya.

Buyar Winarso, yang berangkat dari rakyat kebanyakan, berasal dari kantong kemiskinan, kenyang dengan denyut nadi rakyat kelas bawah, bahkan menggugat angka yang dipublikasi pemerintah daerah, yang antara lain menyebutkan bahwa jumlah rakyat miskin di Kebumen sekitar 350.000 dari total penduduk sekitar 1,2 juta jiwa. “Lakukan pendataan dan suvei yang benar… saya bisa terka, angka kemiskinan di Kabupaten Kebumen jauh lebih besar dari yang dipublikasikan pemerintah,” tandas ayah tiga orang anak ini.

Bagi Buyar, kemiskinan itu bukan untuk ditutup-tutupi, apalagi untuk maksud pencitraan diri. Kemiskinan harus diungkap, harus dibongkar, harus didata sedetil mungkin, harus dibuatkan peta khusus rakyat miskin, dan segala hal yang terkait dengan kemiskinan harus dipublikasikan besar-besar. Sebab, baginya, kemiskinan itulah musuh bersama. Kemiskinan itulah yang harus diberantas. Dengan kata lain, segala kerja, segala dana, segala kemampuan Pemda Kabupaten Kebumen, harus dikerahkan untuk memberantas kemiskinan.

“Sebab pada hakikatnya, tugas utama pemerintah, khususnya pemerintah daerah tidak lain dan tidak bukan adalah memajukan daerah, memakmurkan rakyatnya. Jadi semua program harus bermuara pada kemajuan daerah dan kemakmuran rakyat. Semua program yang bertentangan dengan itu, harus ditinjau kembali,” ujar Buyar Winarso, tegas.

Karenanya, bulat tekad di dada Buyar Winarso, yakni sebuah tekad untuk memacu denyut nadi Kebumen. Menggeliatkan kembali perekonomian. Memajukan perdagangan. Semuanya, tetap dalam koridor berbasiskan pertanian dengan segala program ekstensifikasi maupun intensifikasinya. “Basis ekonomi rakyat yang tangguh, memungkinkan roda perdagangan berputar kencang. Basis ekonomi rakyat, khususnya sektor pertanian, akan mampu membendung gempuran ekses ekonomi global,” ujar Buyar Winarso. (kli)

One response to “Memacu Denyut Nadi Kebumen

  1. pak…mbok main ke krakal

    tenang tidak usah sangu apa2….orang2 anda sepertinya sepi disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s