Kemiskinan, Musuh Besar Buyar Winarso

Jangan hadapkan potret kemiskinan kepada H. Buyar Winarso, SE. Baginya, kemiskinan adalah musuh besar. Sejak kecil, remaja, bahkan menjelang beranjak dewasa, ia kenyang dengan kehidupan serba kekurangan. Belasan, bahkan puluhan tahun ia berkutat dengan hidup susah. Saat usianya masih belasan tahun, ia harus bekerja di restoran Padang dan menjadi penjual rokok.

Bahkan untuk mempertahankan sekolahnya, ia menanam kangkung, memelihara anak ayam, hingga menjadi kenek angkutan pedesaan trayek Kebumen – Krakal. Nafas hidup susah telah kenyang ia hirup. Bersamaan dengan itu, ia tertempa oleh kerasnya kehidupan. Ia terpacu oleh semangat kerja keras untuk keluar dari kubangan hidup susah.

Ia paham betul, Allah SWT menyukai setiap hambanya yang bekerja keras. Bagi Buyar, tidak ada satu pun harapan untuk mengubah nasib menjadi lebih baik, tanpa bekerja keras dan memegang teguh amanah. Itu saja yang ia genggam. Kerja keras dan kerja keras menjadi irama hidupnya sehari-hari. Setiap atasan mempercayakan pekerjaan, ia pegang teguh dan jalani sepenuh hati sebagai sebuah amanah.

Buyar Winarso tidak pernah bericara hasil, karena baginya, cukuplah bekerja keras dan berdoa. “Gusti Allah ora sare, begitu kata orang tua saya,” ujar Buyar. Ia menyerahkan ihwal rezeki kepada Tuhan, sebab Tuhanlah Maha Pengatur rezeki setiap hambanya. “Bekerja keras, memegang teguh amanah, berusaha berbuat baik, beramal soleh… insya Allah kita akan diridhoi hidupnya, fidunnya wal akhirat,” ujar Buyar lagi.

Tekadnya pulang, mengabdi bagi daerah tumpah darah, salah satu dorongan terkuat adalah karena ia melihat masih besarnya angka kemiskinan di Kebumen. “Angka resmi kurang lebih 30 persen dari total penduduk yang sekitar 1,2 juta jiwa. Akan tetapi, itu angka absolut. Setelah saya kaji lebih dalam, kondisinya terbalik, lebih separuh penduduk Kebumen hidup miskin. Itu kalau kita dekati dari parameter kebutuhan hidup minimum. Jadi, kondisi ini sungguh memprihatinkan,” tandasnya.

Tidak ada alternatif lain kecuali mencemplungkan diri ke kancah politik praktis, menggapai tahta bupati untuk rakyat Kebumen. “Insya Allah, sebagai putra daerah, setiap tahun lebih dari tiga kali saya pulang dan melakukan kegiatan-kegiatan pemerangan kemiskinan. Akan tetapi tentu saja tidak maksimal, karena kapasitas saya sebagai individu. Karenanya, hanya dengan menduduki jabatan eksekutif, insya Allah saya mampu berbuat lebih banyak bagi peningkatan kesejahteraan rakyat Kebumen,” ujar kandidat Bupati Kebumen yang berpasangan dengan calon wakil, Djuwarni itu. (nak)


7 responses to “Kemiskinan, Musuh Besar Buyar Winarso

  1. Memang angka kemiskinan Kebumen tidak cuma 30%, presentasi dari hasil survey mahasiswa UII pernah sy ikuti beberapa thn di Bappeda Kbm mereka menyatakan bahwa penduduk Kbm 60 % lebih dalam katagori miskin. Tapi penampilan profil kemiskinan senyatanya bisa mengganggu gengsi kepala daerah, “isin”. Seperti juga hasil BPS secara nasional angka kemiskinan Indonesia hanya 16%,siapa yg percaya tapi begitulah adanya.
    Angka seolah-olah bisa disetting semau kita demi kredibilitas dan martabat.
    Padahal seorang PNS bergolongan IVa atau IVb begitu anaknya seorang atau 2 orang kuliah di Yogya mereka sudah kalangkabut,adiknya di SMA dan SMP, cuma mereka tidak berani bersuara, jalan pintasnya adalah menumpuk hutang dan yg lebih bahaya org Jkt bilang cari cakopi/pungli dan yg paling berbahaya adalah KKN. Akar masalah bangsa adalah “kemiskinan” dalam arti luas. Munghkinkah MDG’s 2015 betul2 goal. Wallahu ‘alam.

  2. ya..saya sependapat dgn first cmmnt trsbt..

    singkat aja ini mohon dibca :
    http://kickandy.com/theshow/2010/01/22/1777/1/1/1/BUKAN-BUPATI-BIASA

  3. pilih pemimpin itu mudah,:lihat saja APA YG SELAMA INI DILAKUKAN,dari mana dan bagaimana sumber keuangan selama ini ?….pastilah masing masing bisa nmenjawab dgn baik..he..he

  4. selamat berjuang untuk mengurangi kemiskinan, pusatkan pertanian pada komoditas ubi kayu / bodin dan jagung. Upayakan prosesing di Kebumen untuk makanan dan juga untuk bodin bisa dibuat biogas sebagai BBM pengganti premium dan pertamax. Bila harga kedua komoditas itu stabil dan cukup ada untung secara ekonomis, pastilah rakyat tanpa diperintah akan menanami semua lahan yang kosong,baik digunung, di pesisir dan dimana saja .

    Petani makmur, daya beli naik, rakyat sejahtera, kemiskinan dan urbanisasi akan berkurang dengan sendirinya.

  5. Maaf bukan biogas tapi bio ethanol seiring dengan akan dibatasinya pemakaian premium bagi sepeda motor, maka produksi bio ethanol dari bodin sungguh sangat menolong pemakai kendaraan roda 2 di Kebumen dan sekitarnya. Bila bio ethanol dapat diproduksi secara besar2-an saya yakin harga per liternya akan dapat lebih murah dari[pada harga premium.

    Jika ini terwujud petani bodin bisa lebih sejahtera dari pada sekarang yg harga per kg nya tidak seberapa. Bodin bila diolah dengan baik untuk makanan kecil kering bisa juga untuk ekspor. Dari Jakarta Mbangun Desa.

  6. mamo cemani gombong

    yang repot golongan orang miskin gak kaya juga gak …… kalau ada program pemerintah mengenai kemiskinan nggak terdata …kalau kena musibah ( sakit , kecelakaan, dll ) nggak mampu ….. solusinya ngutang sana sini…..puyeng ….

  7. untuk golongan tengah kaya nggak, miskin nggak ya sebaiknya saja pada waktu ada pendattaan bilang saja sama petugas atau langsung pada Kepala Desa bahwa kami ini golongan “magel” yang selalu kapiran, dianggap mampu nyatanya montang-manting, dianggap miskin kayaknya kelihatan mampu padahal dibelakang nyatanya kosong / kurang seperti HP hanya bagus di casing, tetapi dalamnya lemot. Makanya jangan casing yg dipentingkan tapi yg penting bagaimana pendapatan tiap harinya…ini sebenarnya indikator kemiskinan, berapa rupiah per jiwa / per hari menerima upah kerja apapun bentuknya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s