“Kenduri Panjang” di Wonokromo

Laksana kenduri panjang, maka nyaris tiada hari tanpa tamu di rumah H. Buyar Winarso, SE, di Wonokromo, Kecamatan Alian. Sejak matari terbit di timur, hingga tenggelam di barat, bahkan sampai larut malam, rumah besar yang asri di kaki pegunungan Wonokromo itu, selalu penuh dengan para tetamu yang datang dari berbagai penjuru Kabupaten Kebumen.

Demi rasa hormat kepada para tamu, Buyar berusaha untuk menemui setiap tamu yang datang, tanpa kecuali. Dia sadar, tatkala dirinya “mengibarkan bendera” sebagai kandidat Bupati Kebumen pada Pilkada 11 April 2010, salah satu konsekuensinya adalah mengalirnya para tetamu dari berbagai penjuru, dengan aneka maksud dan tujuan.

“Bagi saya, kedatangan tamu adalah berkah. Kita harus memperlakukan tamu dengan hormat. Islam mengajarkan betapa kita harus mengutamakan tamu,” ujar Buyar, menanggapi maraknya para tamu yang datang ke kediamannya.

Bertutur tentang tamu-tamunya, Buyar mengatakan,  pada dasarnya, setiap yang datang adalah bertujuan “mangayubagyo”, ikut mendukung dan nyengkuyung kembalinya “sang walet emas” demi membawa Kebumen ka arah perubahan yang lebih baik. Ketika kepadanya ditanyakan, “apakah dukungan mereka ikhlas, atau ada maksud lain?” Buyar spontan menjawab, “Kita wajib berprasangka baik. Sedangkan hati orang, hanya dia dan Tuhan yang tahu.”

Buyar sendiri tidak pernah merasa keberatan dengan kehadiran mereka. “Bayangkan, untuk sampai ke rumah saya, mereka pertama-tama harus berniat dulu. Setelah itu harus mau meringankan kaki untuk melangkah. Bahkan, tidak jarang, ketika sampai di rumah, saya sudah beraktivitas di luar. Bagaimana mungkin saya tidak menghormati dan menghargai mereka?” tandasnya.

Benar, sebagai kandidat, Buyar sadar betul, bahwa dirinya harus dikenal dan mengenal masyarakat pemilihnya. Tidak ada cara lain kecuali dia harus berkeliling masuk-keluar desa, menyusuri berbagai jalur, mulai dari lereng pegunungan, daerah perkotaan, hingga ke pesisir selatan.

“Hanya dengan begitu, saya bisa mengenal dan dikenal oleh rakyat Kebumen. Melalui kegiatan itu pula saya bisa menyerap aspirasi rakyat, bahkan melihat langsung dari dekat. Ini sangat penting buat modal saya memimpin Kebumen ke depan. Apalagi, jargon saya adalah, Insya Allah Aku Sing Ngerti Karepmu... jadi saya harus menjumpai seluruh elemen masyarakat. Sebab, penduduk Kebumen memang terdiri atas berbagai golongan, profesi, strata ekonomi, dan lain-lain,” ujar Buyar.

Ibarat keluar pagi-pulang dinihari… toh masih relatif banyak daerah yang belum bisa didatangi. “Karenanya, sisa waktu saya akan optimalkan kunjungan ke berbagai pelosok daerah. Sebab, sekali lagi, hanya dengan begitu saya bisa dikenal dan mengenal rakyat Kebumen. Karenanya, melalui kesempatan ini, saya tak habis-habis meminta maaf kepada para tamu yang ada kalanya, tidak bisa bertemu saya di rumah. Ya begini ini, karena saya memang harus banyak keliling wilayah Kebumen,” kata ayah tiga orang anak itu. (why)

One response to ““Kenduri Panjang” di Wonokromo

  1. mamo cemani gombong

    Maaf pak Buyar saya yg belum bisa SOWAN ketempat anda kalau di tempat bu Djuwarni sering bahkan hampir tiap hari . bagi saya yg penting bukan jumpanya tapi dukungan dan perjuangannya untuk mensukseskan anda .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s