Dua Ratus Lima Puluh Juta per Desa

Sebanyak 36 desa di tiga kecamatan di wilayah Kebumen (Ayah, Puring, Petanahan) segera menerima dana masing-masing Rp 250 juta. Dana tersebut adalah dana PPIP (Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan) tahun 2010, yang bersumber dari APBN 2010.

Pencairan dana PPIP tersebut dimungkinkan setelah ditanda-tangani oleh Ir. Taufik Kurniawan, MM ( Ketua Komisi V DPR RI /Sekjen DPP PAN ) dan Agus Widjanarko (Sekjen Kementerian PU). Kabar baik itu dikemukakan langsung oleh It Taufik Kurniawan kepada 36 Kades, dalam pertemuan di Prembun, beberapa waktu lalu.

Pada saatnya, kucuran dana akan langsung ditransfer ke Rek. OMS (Organisasi Masyarakat Desa [OMS) di masing-masing desa penerima dana PPIP.

Dalam kesempatan itu, Taufik Kurniawan didampingi Ketua DPD PAN Kabupaten Kebumen, Barli Halim, SE dan kandidat bupati Kebumen, H. Buyar Winarso, SE serta calon wakilnya, Djuwarni, Amd.Pd. Pasangan Buyar – Djuwarni adalah pasangan calon bupati-wakil bupati yang diusung Koalisi Kebumen Bersatu, yang terdiri atas PAN, PPP, PKNU, dan Gerindra. (eee)

Advertisements

Jembatan Rel KA Panjatan Terancam Amblas

Banjir yang menerjang sebagian Desa Panjatan, Kecamatan Karanganyar mengakibatkan tanggul sungai jebol. Jebolnya tanggul akibat luapan banjir tersebut, bahkan mengakibatkan abrasi di dinding bantalan rel kereta api. Masyarakat setempat, selain prihatin akibat dampak banjir beberapa hari lalu, masyarakat juga mencemaskan amblasnya tanah yang menyangga jembatan rel KA di Panjatan.

Keprihatinan itu dinyatakan calon bupati Kebumen, H. Buyar Winarso, SE saat Selasa (9/3) siang kemarin melihat dari dekat lokasi jebolnya tanggul. Buyar menyatakan, pemerintah daerah Kabupaten Kebumen tidak boleh tinggal diam melihat fenomena alam tersebut. “Pemda sudah seharusnya segera melakukan koordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia Daop Purwokerto. Sebab, sekali lagi sungai meluap dan mengikis dinding jembatan rel KA, sungguh sangat berbahaya,” ujar Buyar Winarso.

Pemda sendiri dalam membuat tanggul, tidak dalam posisi yang bersalah. Sebab, lokasi yang jebol sepanjang kurang lebih 20 meter, memang merupakan lahan milik PT KAI. Nah, karena bendungan semi permanen itu terbilang rapuh, maka tidak heran jika saat banjir meluap, jebol dan “menenggelamkan” permukiman warga setempat.

Usai meninjau lokasi tanggul yang jebol, Buyar juga mendatangi masyarakat korban banjir. Kepada warga setempat Buyar menanyakan Ketua RW untuk mencacah jumlah warga yang menjadi korban banjir. Tunggu ditunggu Ketua RW tidak juga datang, hingga akhirnya seseorang membisikkan keterangan ke telinga Buyar, “Maaf pak Buyar, pak RW tidak mau datang, katanya karena dia tim sukses calon bupati yang lain,” ujar warga setempat sambil menyebut nama kandidat bupati lain.

Buyar spontan menyahut, “Masya Allah… ini soal kemanusiaan, kenapa dicampur aduk dengan masalah Pilkada? Saya kan hanya mau bertanya tentang jumlah warga RW yang terkena musibah, bukan mencari tim sukses. Baiklah, sumbangan ini mohon disaksikan, saya serahkan kepada perwakilan warga, untuk diteruskan kepada masyarakat. Jangan dilihat jumlahnya… ini hanya wujud keprihatinan saya,” ujar Buyar. Kemudian kepada dua warga yang rumahnya amblas diterjang banjir, Buyar juga memberikan bantuan secara khusus. (nyk)

“Buyar Winarso”, Anak Kecil Aja Tau…

Sang Master Ceremony (MC) mendaulat lelaki berbaju batik ke atas pentas. Ratusan anak-anak TK peserta lomba mewarnai dan menggambar dalam rangka Milat Nabi Muhammad SAW di halaman RS PKU Muhammdiyah Sruweng sempat riuh. MC kembali meminta mereka tenang dengan menghitung satuuu… duaaa…. belum sampai hitungan ketiga, suasana sudah hening.

Fokus perhatian anak-anak dan para orang tua tertuju ke atas pentas. Sang MC kembali melontar kalimat, yang kali ini bernada tanya, “Adik adikkk… hayooo… siapa yang tahu nama Bapak yang ada di sebelah saya ini…!!!” lebih dari separuh anak-anak TK itu angkat tangan…. Sang MC menunjuk satu anak perempuan, Dahlia, sebut saja begitu namanya, dan mendaulatnya ke atas pentas. Mic didekatkan ke mulut si bocah, dan MC mengulang pertanyaan. Dengan spontan dan lantang bocah usia lima tahunan itu menjawab, “Buyar Winarso….” Tepuk tangan pun membahana. Dan MC pun menimpali, “Tuuuh… anak kecil aja tau….”

Ya, siang itu, kandidat bupati Kebumen, H. Buyar Winarso, SE hadir di tengah-tengah acara Milad Nabi Muhammad SAW di halaman RS PKU Muhammadiyah Sruweng, yang antara lain diisi kegiatan untuk anak-anak. Dalam kesempatan itu, Buyar berkesempatan memberikan sejumlah hadiah, baik kepada pemenang lomba mewarnai dan melukis, serta hadiah kejutan (door prize) bagi pengunjung yang beruntung.

Kunjungan Buyar Winarso ke RS PKU Sruweng, tidak semata menghadiri lomba mewarnai dan melukis anak-anak, namun sekaligus menjenguk pasien-pasien pra-sejahtera yang dirawat di rumah sakit tersebut. Sama seperti saat Buyar Winarso dan Djuwarni mengunjungi bangsal pasien tak mampu di RSUD Kebumen beberapa waktu lalu, maka di RS PKU Muhammadiyah Sruweng pun, Buyar melakukan hal yang sama.

Ia mengunjungi kamar demi kamar pasien tak mampu di sana. Berdialog dengan keluarga pasien, memberi spirit dan semangat kepada para pasien, dan tak lupa memberi bantuan ala kadarnya sebagai wujud kepedulian Buyar Winarso terhadap keluarga tak mampu yang sedang dirawat di rumah sakit. (hhh)

Buyar Winarso Hadiri Pelatihan Metode Berantas Korupsi

Para pejabat di lingkungan Pemkab Kebumen, pemimpin lembaga perbankan, serta kepala sekolah dan instansi terkait mengikuti pelatihan tafakur-hisab-dzikir (T-H-D) untuk mewujudkan wilayah bebas korupsi. Acara itu digelar di Gedung Pertemuan Setda Kebumen, Selasa (2/3). Pelatihan itu sebagai wujud komitmen pemberantasan tindak pidana korupsi Pemkab Kebumen.

Turut serta dari unsur DPRD, parpol, dan LSM. Bahkan, pelatihan THD juga mengundang empat kandidat calon bupati dan wakil bupati yang akan mengikuti Pilkada 11 April 2010. Namun, dari empat kandidat, hanya H. Buyar Winarso, SE yang hadir. Sedangkan H. Nashirudin Al Mansyur hadir sebagai Bupati Kebumen.

Adapun narasumber yang dihadirkan adalah Ir. Suharyono dari Dinas Pertanian Kebumen, Satuja dari Inspektorat Kebumen, dan Ahmad Pinuji, SE dari Setda Kebumen. Metoda yang digunakan adalah tafakur, hisab, dan dzikir. Tafakur artinya merenungi kebesaran Tuhan, sedangkan hisab bisa mengukur perbuatan atau manajemen perilaku. Dzikir bisa mencegah perbuatan korupsi. (sumber: Suara Merdeka)

Buyar – Djuwarni Kunjungi Pasien Miskin

Usai menjalani tes kesehatan (25/2), kandidat bupati Kebumen, H. Buyar Winarso, SE dan kandidat wakilnya, Djuwarni, Amd.Pd tidak segera meninggalkan rumah sakit (RSUD) Kebumen. Keduanya, spontan bertanya kepada seorang perawat lokasi bangsal rawat inap bagi keluarga miskin. Setelah diberi tahu arah jalan, Buyar – Djuwarni spontan melangkah ke sana.

Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Barangkali itu motto yang terlintas di benak Buyar Winarso ketika itu. Selagi ia berada di rumah sakit, dalam urusan persyaratan KPU, ia menggunakan kesempatan yang ada untuk bertatap muka, berdialog dan bersinggungan langsung dengan masyarakat. “Sebenarnya bukan aji mumpung… atau bukan pula tujuan tebar persona… ini murni dorongan hati, dan ini murni menjalani program yang sudah digariskan oleh tim. Hanya saja, kebetulan waktunya bersamaan dengan tes kesahatan kandidat,” ujar Buyar Winarso.

Sepanjang koridor atau lorong rumah sakit menuju bangsal perawatan inap bagi keluarga miskin, Buyar menyalami para keluarga yang menunggu di luar. Kemudian ia mengemukakan niatnya untuk bezuk pasien miskin kepada petugas atau suster jaga. Perawat bangsal itu kemudian menunjukkan pasien yang dimaksud Buyar dan Djuwarni.

Satu per satu kamar perawatan didatangi. Dengan santun dan akrab Buyar dan Djuwarni berdialog dengan pasien dan atau keluarga yang menjaga. Sebagai bentuk rasa simpati, ia memberikan bantuan kepada para pasien tadi. Umumnya, para pasien maupun keluarganya, begitu terharu dan bahagia demi melihat kedatangan Buyar Winarso dan Djuwarni. “Ada pak Buyar… ada pak Buyar…,” begitu spontan suara mereka.

Dua bangsal dikunjunginya secara merata. Tak terkecuali, para penunggu di luar bangsal juga mendapat sapaan hangat Buyar dan Djuwarni. Bahkan, manakala seorang penunggu minta sekadar uang buat jajan, spontan pula Buyar memanggil penjaja penganan kecil di sekitar bangsal itu dan memberinya sejumlah uang, “Silakan jajan sepuasnya…,” ujar Buyar yang disambut ucapan terima kasih dan gegap gempita mereka.

Dan ketika hendak meninggalkan rumah sakit… sejumlah pengunjung menghentikan langkah, menatap dan menyalami Buyar dan Djuwarni. Sembari menyalami, mereka menyatakan dukungannya untuk Buyar Winarso – Djuwarni pada Pilkada 11 April 2010 mendatang. (dss)

Traditional Performing Art, Iringi Langkah Buyar-Djuwarni Daftarkan Diri

Coba tanyakan kepada Buyar Winarso dan Djuwarni, pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Kebumen 2010-2015, apakah dia merancang konsep khusus untuk mendaftar ke KPUD Kebumen? Mereka akan menjawab: “Tidak”. Lantas, bagaimana acara mendaftar ke KPUD bisa begitu meriah, atraktif, dan simpatik?

Usut punya usut, ini adalah kerja tim sukses H. Buyar Winarso – Djuwarni, Amd.Pd, yang terdiri atas BW Center, Tim Koalisi Kebumen Bersatu, dan partisipasi aktif masyarakat (baca: relawan). Merekalah yang berinisiatif mendesain acara pendaftaran ke KPUD agar meriah. Itu pula yang dirasakan masyarakat kota Kebumen, Jumat (26/2) sekitar pukl 15.00, saat berlangsung parade Buyar Winarso – Djuwarni menuju KPUD Kebumen yang terletak di komplek Pemda Kabupaten Kebumen.

Terhimpunlah sedikitnya lima kelompok seni tradisional yang mengawali parade pasangan Buyar – Djuwarni menuju KPU dengan berjalan kaki, mengambil garis start dari depan kantor BW Center di Jalan Pahlawan, Kebumen. Yang menarik, parade tadi dipandu sepasang kuda terlatih, yang bisa berjingkrak, berjalan tap-tap, maju-mundur dan berputar, mengikuti alunan musik pengiring di belakangnya. Sungguh dua kuda cantik yang pintar. Sayang, hingga naskah ini diposting, tak terjawab pertanyaan tentang asal-usul kuda itu, hingga apakah kedua kuda pintar itu juga memiliki nama yang cantik?

Dan ternyata, Buyar Winarso pun terkesan dengan traditional performing art yang disajikan tim suksesnya. “Saya tidak nyangka akan dikemas sebagus ini. Saya juga berterima kasih, bahwa ternyata rakyat antusias menyumbangkan kelompok kesenian mereka untuk ikut memeriahkan hari penting ini,” ujar Buyar Winarso, seusai pendaftaran.

Ketika ditanyakan khusus tentang “penampilan” dua kuda pintar sebagai “cucuk lampah” parade sore hari itu, Buyar tertawa, “Nanti kalau saya sudah jadi bupati Kebumen, saya akan daftarkan masuk MURI, sebagai kuda yang pandai menari….eh tunggu…. bukan hanya itu, kalau kepintaran kuda itu hasil didikan instruktur, akan saya fasilitasi intruktur itu untuk membuka sekolah tari khusus kuda…. ha…ha…ha…”

Terbayang, baru melihat kuda bisa menari saja, ide Buyar sudah berhamburan seperti itu. Propaganda kuda bisa menari yang direkam di Museum Rekor Indonesia (MURI), tentu saja akan terekspose secara nasional. Kemudian, ide di Kebumen ada Sekolah Tari untuk Kuda? Bayangkan, bukan saja pengusaha sirkus Indonesia yang akan menyekolahkan kuda mereka, tetapi juga Kebumen bisa mengekspor kuda yang pandai menari ke manca negara. (kgn)

Buyar – Djuwarni Jalani Tes Kesehatan

Sebagai persyaratan mencalonkan diri menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kebumen 2010 – 2015, pasangan H. Buyar Winarso, SE – Djuwarni, Amd.Pd harus mengikuti proses pemeriksaan kesehatan. Dua hari beturut-turut, Rabu (24/2) dan Kamis (25/2), keduanya mendatangi RSUD Kebumen bersama tiga pasang calon lain.

Pada pemeriksaan pertama, semua pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati itu diharuskan berpuasa sejak malam sebelumnya, untuk tes darah. “Mestinya saya harus istirahat sejak jam sepuluh malam, dan berpuasa, tapi rupanya sulit. Untuk tidak makan sejak jam sepuluh malam, okelah… tetapi untuk istirahat jam sepuluh malam, ini yang sulit,” ujar Buyar Winarso, di sela-sela sesi pemeriksaan.

Menurutnya, sekalipun ia sudah mencanangkan niat istirahat cepat, akan tetapi toh hatinya tidak tega untuk meninggalkan para tamu yang hadir hingga larut di kediamannya, Desa Wonokromo, Kecamatan Alian. “Jadi mau tidak mau, melek juga sampai tengah malam…he…he…he…,” ujar Buyar.

Sekalipun begitu, sesi pemeriksaan kesehatan ia jalani dengan enjoy. Bahkan, sesaat setelah pengambilan darah, dan sudah boleh makan, Buyar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk makan. Ia sadar, aktivitas yang padat, tanpa diimbangi pola makan yang teratur, sangat membahayakan bagi kesehatan dirinya. Dan… seperti di tempat-tempat lain, Buyar spontan membaur dengan masyarakat di sekitarnya.

Meski para kandidat lain makan dan duduk-duduk di ruang tunggu di dalam, Buyar mendadak keluar ruang dan duduk di bangku tamu. Ia terlibat akrab bertegur-sapa dan berseda-gurau dengan para PNS RSUD Kebumen, dan para anggota tim sukses dari kandidat-kandidat lain. (sdh)